1. Dengan Lembut
“
Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu…” (QS. Al-Imraan[3] : 159)
Ayat tersebut ditujukan kepada Nabi
Muhammad saw dalam membina umatnya, tapi pembinaan itu bersifat
universal. Ayat diatas juga berlaku bagi orangtua dalam mendidik
anak-anaknya. Agar anak lebih mendekat maka jalan yang mesti ditempuh
adalah mendidik dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar. Bukan
berarti harus menuruti semua permintaan anak, akan tetapi memahami
pendapat dan keinginan anak yang sering tidak masuk akal, kemudian
mengarahkannya dengan kasih sayang antara yang boleh dan yang tidak.
2. Menawarkan Kebaikan`
Menurut Dr. Burstein dalam buku Dr. Burstein’s Book on Children
2. Menawarkan Kebaikan`
Menurut Dr. Burstein dalam buku Dr. Burstein’s Book on Children
“
Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi) yang lebih baik jika diberi
senyuman dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang”.
Sidney D. craigt menegaskan pendapat yang sam dengan didukung dengan bukti dan argumentasi yang kuat.
“
Sifat dasar manusia akan mengalami gejolak perasaan menghargai yang
amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati kepadanya,”.
Jadi jika orangtua bisa mengajak bicara
anak dengan lemah lembut yang disertai dengan senyuman untuk menunjukkan
kasih sayangnya tentu anak akan lebih bisa menerima, menanggapi dan
mematuhinya.
3. Pahami Alasan Anak
Anak-anak mempunyai harga diri sama dengan orang dewasa. Jika ia merasa harga dirinya diinjak-injak walaupun oleh orangtuanya sendiri anak cenderung untuk melawan untuk menjaga harga dirinya. Salah dan benar mestinya diukur dari dunia mereka dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwanya. Cari tahu alasan anak dan bicarakan dengan lembut dan nada yang tenang sambil tetap memberi senyuman kenapa dia tidak mau menurut. Pahami alasannya dan bantu anak memberikan solusi bagaimana supaya dia bisa tetap melakukan keinginannya sekaligus mentaati orangtua.
4. Menahan Emosi
Seorang ibu harus bisa meredam emosi dan menahan kemarahannya didepan anak. Karena anak meniru dari orang-orang terdekatnya. Jika orangtua sering marah-marah dengan berkata-kata kasar dan tak mampu menahan emosi maka otomatis anak akan meniru perilaku seperti itu. Hanya sayangnya seorang ibu rumahtangga sering tidak bisa menahan emosi karena tidak memiliki penyaluran yang baik untuk meredam emosinya karena tugas dan kewajiban ibu yang berat dan tingkat kebosanan yang tinggi tanpa adanya kepedulian dari suami dan masyarakat akan kerja beratnya. Sehingga anak menjadi sasaran pelampiasan emosinya.
Padahal dalam ajaran agama islam telah diberikan patokan pergaulan hidup yang beradap sehingga jika patokan tersebut dipenuhi akan mampu mengalahkan pengaruh-pengaruh negative. Seperti Larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, larangan bagi wanita untuk melengkingkan suara, anjuran untuk segera berwudhu jika marah, hingga larangan memanggil teman dengan gelar dan sebutan yang jelek.
3. Pahami Alasan Anak
Anak-anak mempunyai harga diri sama dengan orang dewasa. Jika ia merasa harga dirinya diinjak-injak walaupun oleh orangtuanya sendiri anak cenderung untuk melawan untuk menjaga harga dirinya. Salah dan benar mestinya diukur dari dunia mereka dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwanya. Cari tahu alasan anak dan bicarakan dengan lembut dan nada yang tenang sambil tetap memberi senyuman kenapa dia tidak mau menurut. Pahami alasannya dan bantu anak memberikan solusi bagaimana supaya dia bisa tetap melakukan keinginannya sekaligus mentaati orangtua.
4. Menahan Emosi
Seorang ibu harus bisa meredam emosi dan menahan kemarahannya didepan anak. Karena anak meniru dari orang-orang terdekatnya. Jika orangtua sering marah-marah dengan berkata-kata kasar dan tak mampu menahan emosi maka otomatis anak akan meniru perilaku seperti itu. Hanya sayangnya seorang ibu rumahtangga sering tidak bisa menahan emosi karena tidak memiliki penyaluran yang baik untuk meredam emosinya karena tugas dan kewajiban ibu yang berat dan tingkat kebosanan yang tinggi tanpa adanya kepedulian dari suami dan masyarakat akan kerja beratnya. Sehingga anak menjadi sasaran pelampiasan emosinya.
Padahal dalam ajaran agama islam telah diberikan patokan pergaulan hidup yang beradap sehingga jika patokan tersebut dipenuhi akan mampu mengalahkan pengaruh-pengaruh negative. Seperti Larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, larangan bagi wanita untuk melengkingkan suara, anjuran untuk segera berwudhu jika marah, hingga larangan memanggil teman dengan gelar dan sebutan yang jelek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar